ketika "#BapaknyaPetani'' menjadi Trending
Hastag #BapaknyaPetani" menjadi trending setidaknya sejak mulai disematkan secara masif sejak tanggal 31 Juli 2018.
Hasil tracking dengan menggunakan aplikasi keyhole.com
Ragam reaksi tersirat dalam beberapa postingan yang menyematkan hastag#BapaknyaPetani. Beberapa postingan menampakan suka cita merayakan keberhasilan menteri pertanian, Aman Sulaiman dalam menerapkan kebijakan yang dinilai menyelamatkan petani sebagaimana dimuat dalam metronews.com. Pujian serupa ditujukan kepada Presiden Joko Widodo karena dinilai mampu menunjukan kinerja yang lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Hastag ini juga membuntuti ragam satir pada Prabowo Subianto karena diklaim salah mengambil sumber data kemiskinan. Sebagian lainnya menampilkan sinisme dan keengganan terhadap kinerja Jokowi. Meskipun reaksi cenderung mengarah pada dukungan terhadap Presiden Joko Widodo, namun kondisi ini secara tak langsung memetakan kicuan kicuan ke dalam dua kubuh yaitu Pro Joko Widodo atau sebaliknya. Situasi ini dapat dimaklumi karena Indonesia sedang memasuki masa persiapan pemilu. Sejumlah postingan sarat dengan nuansa politis. Kelompok lain diluar unsur politis adalah mereka yang lebih memberi penekanan pada kata "Petani" sebagai sebuah kata benda.
Beberapa postingan menyiratkan suatu kebanggaan terhadap profesi petani. Salah satunya.

Sebuah paradoks ditunjukan melalui konjugasi tapi. Artinya ketika bapak saya adalah petani seharusnya saya tidak perlu berbangga atau dengan kata lain saya mungkin akan berbangga kalau bapak saya bukan petani. Satu kalimat sederhana namun menampilkan sebuah konstruksi tentang profesi petani. Petani memang sangat jarang bahkan nyaris nihil dari kategori pekerjaan yang diimpikan oleh anak-anak. Sebuah konstruksi tentang petani sebagai pekerjaan yang dikhususkan bagi mereka yang putus sekolah atau mereka yang hanya mengandalkan kemampuan otot, dan konservatif. Petani selalu diasosiakan dengan pekerjaan menggarap lahan dengan hasil yang tak seberapa atau hidup selalu penuh dengan kesengsaraaan. Sebuah percakapan memerihkan ketika salah satunya berujar "orang tua saya tidak bekerja" mereka hanya petani. Pekerjaan yang mampu mengenyangkan jutaan perut dipandang "hanya"??????????
Profesi petani mungkin melalui masa lalu yang kelam, yaitu ketika pekerjaan menggarap lahan diperuntukan bagi kaum pribumi pada masa penjajahan. Dengan diupah tak seberapa, mereka hidup di bawah taraf sejahtera hingga petani memang dikhususkan bagi kaum pekerja. Kini pengelompokan petani berdasarkan luas lahan garapan atau indikator lainnya sepertinya masih terhenti di kalangan akademisi. Tak ada pemisahan yang tegas antara petani kecil dan besar. Publik masih saja mengasosiakan petani sebagai pekerja kelas bawah. Sinisme berlebihan ini membuat banyak pihak enggan untuk berbangga hati memiliki orang tua petani sekalipun halal.
Hasil tracking dengan menggunakan aplikasi keyhole.com
Ragam reaksi tersirat dalam beberapa postingan yang menyematkan hastag#BapaknyaPetani. Beberapa postingan menampakan suka cita merayakan keberhasilan menteri pertanian, Aman Sulaiman dalam menerapkan kebijakan yang dinilai menyelamatkan petani sebagaimana dimuat dalam metronews.com. Pujian serupa ditujukan kepada Presiden Joko Widodo karena dinilai mampu menunjukan kinerja yang lebih baik dari pemerintahan sebelumnya. Hastag ini juga membuntuti ragam satir pada Prabowo Subianto karena diklaim salah mengambil sumber data kemiskinan. Sebagian lainnya menampilkan sinisme dan keengganan terhadap kinerja Jokowi. Meskipun reaksi cenderung mengarah pada dukungan terhadap Presiden Joko Widodo, namun kondisi ini secara tak langsung memetakan kicuan kicuan ke dalam dua kubuh yaitu Pro Joko Widodo atau sebaliknya. Situasi ini dapat dimaklumi karena Indonesia sedang memasuki masa persiapan pemilu. Sejumlah postingan sarat dengan nuansa politis. Kelompok lain diluar unsur politis adalah mereka yang lebih memberi penekanan pada kata "Petani" sebagai sebuah kata benda.
Beberapa postingan menyiratkan suatu kebanggaan terhadap profesi petani. Salah satunya.
Sebuah paradoks ditunjukan melalui konjugasi tapi. Artinya ketika bapak saya adalah petani seharusnya saya tidak perlu berbangga atau dengan kata lain saya mungkin akan berbangga kalau bapak saya bukan petani. Satu kalimat sederhana namun menampilkan sebuah konstruksi tentang profesi petani. Petani memang sangat jarang bahkan nyaris nihil dari kategori pekerjaan yang diimpikan oleh anak-anak. Sebuah konstruksi tentang petani sebagai pekerjaan yang dikhususkan bagi mereka yang putus sekolah atau mereka yang hanya mengandalkan kemampuan otot, dan konservatif. Petani selalu diasosiakan dengan pekerjaan menggarap lahan dengan hasil yang tak seberapa atau hidup selalu penuh dengan kesengsaraaan. Sebuah percakapan memerihkan ketika salah satunya berujar "orang tua saya tidak bekerja" mereka hanya petani. Pekerjaan yang mampu mengenyangkan jutaan perut dipandang "hanya"??????????
Profesi petani mungkin melalui masa lalu yang kelam, yaitu ketika pekerjaan menggarap lahan diperuntukan bagi kaum pribumi pada masa penjajahan. Dengan diupah tak seberapa, mereka hidup di bawah taraf sejahtera hingga petani memang dikhususkan bagi kaum pekerja. Kini pengelompokan petani berdasarkan luas lahan garapan atau indikator lainnya sepertinya masih terhenti di kalangan akademisi. Tak ada pemisahan yang tegas antara petani kecil dan besar. Publik masih saja mengasosiakan petani sebagai pekerja kelas bawah. Sinisme berlebihan ini membuat banyak pihak enggan untuk berbangga hati memiliki orang tua petani sekalipun halal.
Komentar
Posting Komentar