Nirmala & Adelia

Nirmala & Adelina

Nirmala  dan Adelina adalah dua wanita asal tanah Timor  yang mengurai kisah pilu di negeri Jiran. Keduanya adalah mantan tenaga kerja Indonesia berstatus ilegal yang mengalami penyiksaan dari sang majikan. Jika dirunutkan secara kronologi Nirmala Bonat mungkin dapat dikatakan lebih beruntung dari Adelina Lasoi.

Pada tahun 2004 Indonesia digemparkan dengan kasus penyiksaan sadis terhadap TKW asal NTT.  Nirmala menjadi korban penganiayan keji oleh  majikannya. Keberuntungan mungkin sedang berpihak kepada Nirmala, karena mendapat pembelaan dan perlindungan hukum meski berstatus ilegal.  Di ruang persidangan Nirmala  mengurai kekerasan fisik yang dilakukan oleh majikan. Salah satunya adalah dengan menempelkan setrika panas ke payudara Nirmala.  Pada tahun 2014  Pengadilan Tinggi mengabulkan gugatan perdata Nirmala Bonat dan memerintahkan majikannya, Yim Pek Ha dan suaminya, Hii Ik Ting membayar ganti  RM129.147,20 atau setara dengan 1,1 Miliyar.

Fakta yang sangat menyayat selanjutnya, menimpa gadis belia Adelina Lisao (21).  Tak seberuntung Nirmala, Lasoi meninggal dalam masa perawatan di Rumah Sakit pada tanggal 11 Februari 2018. Adelina ditemukan sedang terbaring lemas di beranda rumah bersama anjing dengan beberapa luka di tubuhnya. Tak banyak kisah tersingkap dibalik luka dan wajah memelas itu.

Salah siapa????????? 

Dengan berstatus ilegal, kita mungkin dengan mudah dapat memberi justifikasi kepada dua pejuang ini sebagai pihak yang tertanggung beban penuh atas kesalahan mereka. Namun mendewakan hubungan kausalitas ini dapat mengaburkan mata kita dari fakta yang lain. Jika memang berstatus ilegal mengapa keduanya dapat menginjak negeri Jiran. Dimanakah pengawasan? dimanakah orang terdekat? Sudahkan yang terdekat dan terdidik meluruskan pemahaman yang keliru? Bagaimana kabar yang jauh, apa pernah menyertakan kaum teraniaya ke dalam doa?

Tulisan ini bukan merupakan suatu pembenaran terhadap pelanggaran aturan yang dilakukan oleh Nirmala dan Adelina atau sebuah tuduhan kepada pihak-pihak tertentu melainkan bentuk lain dari hasil permenungan. 

Apakah Adelina dan Nirmala sejak kecil memiliki cita untuk menjadi seorang tkw?. Apa yang ada di benak mereka tentang tkw? Mungkinkan mereka membulatkan tekad setelah terbelalak  mendengarkan jumlah tabungan tetangga usai merantau? Apa yang ada dalam benak mereka hanya cerita-cerita bahagia tentang merantau? Atau begitu peliknya kah kehidupan di desa hingga melanggar lautan adalah prospek yang dapat menjanjikan? Entahlah,, yang jelas hingga kini saya kehilangan alasan untuk meragukan keyakinan saya tentang tidak adanya manusia di dunia ini yang sejak kecil menaruh harapan untuk menjadi seorang pembantu rumah tangga sebagaimana yang dialami oleh Adelina dan Nirmala. 

Mereka yang Merantau  

Sejak kecil saya sudah sering mendengar kata "TKI atau TKW" dan yang ada dalam benak saya tentang kata itu adalah orang orang yang baru saja pulang dari Malaysia, membawa banyak uang, punya perabot elektronik  baru dan keluarganya pasti mengenakan  pakaian baru dengan model yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Saat itu, bagi saya dan beberapa teman kecil saya,  mempunyai sanak saudara yang sedang merantau sebagai TKI adalah keuntungan. Mungkin karena saat itu usianya masih anak-anak, tak ada pertanyaan lanjutan semisal apa yang dikerjakan di sana? mengapa jumlah uang begitu banyak? bagaimana suka dukanya? yang kami tahu adalah menikmati yang di depan mata.

Di kampung saya banyak yang telah merantau, termasuk om dan tanta saya. Kepulangan mereka adalah hal yang sangat membahagiakan, selain melepas rindu hadiah menjadi hal yang paling dinanti. Mungkin karena masih anak-anak banyak sekali penjelasan yang diterima dengan mudah. Tanta saya saat itu pulang berbadan dua, tanpa suami. Dengan mudahnya saya puas dengan jawaban kalau suaminya  seorang India dan sedang bekerja.  Cerita yang berbeda datang dari tetangga saya. Kepulangan suaminya disambut dengan wajah tak bersahabat. Kata tetangga  saya yang lain ia hanya sedikit kecewa karena ditinggal dalam waktu yang cukup lama. Ibu sepupu jauh saya pulang setelah dua tahun bekerja dan tak terlihat perubahan apapun dengan kondisi rumah mereka. Kakak perempuan teman saya, yang kalah itu masih muda dan sangat cantik, pulang dengan membawa perhiasan. Masih banyak cerita  lainnya di kampung tentang mereka yang merantau

Waktu berlalu dan perlahan saya sadar, selalu ada alasan kenapa ibu ibu sering berkumpul di kala ada tetangga yang baru pulang merantau. Semuanya tentu untuk mempertanyakan hal hal yang saya lewatkan, seperti apa yang dikerjakan, apakah uang-uang tersebut dari hasil melacur? siapa suaminya? darimana selingkuhannya? Apa anak yang dikandung adalah buah cinta terlarang dengan tetangga kampung sebelah yang kebetulan merantau di tempat yang sama? kenapa tak ada perubahan yang cukup berarti di keluarganya padahal sudah merantau selama 2 tahun?.
Begitu kuatnya prasangka negatif sehingga pandangan tertutup untuk melihat  dari sudut pandang yang berbeda. Setiap mereka yang pulang selalu ditempatkan sebagai pelaku dari berbagai akibat, sedikit sekali rasa empati atau setidaknya dengan berandai para tki ini adalah korban.
Tante saya adalah contoh. Penjualan hasil bercocok tanam yang tidak seberapa membuatnya memantapkan pilihan untuk menjadi TKW di Malaysia. Saat pulang dengan tengah berbadan dua,   nyaris tak ada satupun yang dengan gagah menyeka pembicaraan ibu ibu yang sedang berkumpul membahas sangkaan "melacur". Bahkan mereka saling beradu argumen untuk membuktikan sangkaan negatif mereka seperti "melacur atau hasil selingkuhan"? tak ada yang mencoba berpikir hal hal yang terjadi di luar dugaan seperti korban pemerkosaan  atau tindakan merugikan lainnya yang terjadi di luar kemauan korban.


Sinisme pada TKW

Menjadi  TKW lebih banyak mengurai konotasi negatif khususnya ketika menyoroti perorangan. Pekerjaan ini  baru menuai sedikit apresiasi ketika masuk ke dalam topik "pembangunan" yaitu tentang kontribusi mereka terhadap devisa negara atau tampilan grafik yang menunjukanr pengurangan angka penganguran.  TKW cenderung diasosiakan dengan pekerjaan kelas bawah karena tergabung dalam kategori non skill. Pekerjaan para wanita ini dianggap hanyalah pekerjaan yang senantiasa mendongakan kepala seturut inginnya majikan. Tidak sedikit pihak yang memaklumi tindak kekerasan yang terjadi pada tenaga kerja wanita ini. Hal ini dikarenakan dugaan yang mengarah pada kebodohan sang TKW sebagai pemicu. Kausalitas tak teruji mulai dirancang, bahwa karena rerata TKW berpendidikan rendah maka besar kemungkinan ia ceroboh dan bodoh sehingga menyebabkan kekacuan, atau ketika ia pulang dengan membawa banyak rejeki maka lebih besar kemungkinan  turut menggarap ladang melacur. Sinisme berlebihan inilah menggelapkan pikiran kita dari segala kemungkinan lain.

Tentunya tak mudah bagi orang tua untuk melepaskan gadis belianya menyeberangi lautan untuk bekerja dalam kurun waktu tertentu.
Tak mudah melepaskan dekapan ibu, terlebih menyadari kepergiannya untuk mengurusi dapur kotor keluarga lain atau menyuapi anak orang lain.
Bukanlah hal yang tak memilukan berpisah dengan sang istri dalam waktu yang cukup lama.
Sesungguhnya wanita-wanita ini juga pejuang yang layak dihargai hak-haknya. Mereka berani mengambil resiko dengan harapan  mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan. Mereka pantas mendapat perlindungan hukum, memperoleh simpati dan empati dari semua  ketika tertimpa musibah.
Kekerasan yang dialami seharusnya menjadi perhatian kita semua. Tindakan protokoler dan prosedural yang dilakukan pemerintah perlu didukung dengan kepekaan masyarakat seperti mengenali orang-orang sekitar dan tetangga,waspada terhadap orang asing khususnya perekrut ilegal, memberi pemahaman yang baik dan benar terkait TKW ,tak segan menegur dan memberi saran positif bagi mereka yang berniat menempuh jalur ilegal menjadi TKW dan tak malu bertanya jika ada tetangga yang tiba-tiba menghilang dalam kurun waktu tertentu.











 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kapan Nikah???

lacur

ketika "#BapaknyaPetani'' menjadi Trending